Blog Detail
Republik Anarki
http://www.republikanarki.com
Di setiap deret huruf yang aku tata, di setiap sela kata yang aku jadikan kalimat ini, seolah melepuh jantungku ketika menyusunnya. Seakan tiada kata yang bisa mewakili ungkapanku; aku hanya ingin menjadi pecinta.
Di lorong-lorong hidup yang menggiringku ke arah yang kadang tak jelas haluannya, kadang pula aku takutkan jika aku benar-benar dipaksa hingga ke ujungnya, aku masih bisa sedikit tersenyum. Karena di situ aku bisa rasakan degub jantungku menggedor-gedor dari dalam dada, pertanda gelisah karena acapkali merasa sendiri meski berada di keramaian dan di antara sesama, atau karena ketakutan saat mendapati ketidakpastian nasib, karena berkali dipaksa sadar bahwa aku tak berkuasa bahkan terhadap diri sendiri. Di sini, kusebut “bisa sedikit tersenyum”, mengapa? Karena “gelisah”, “kesendirian”, “di antara sesama”, “tak punya kuasa”, itulah dinamika. Karena itu adalah pembeda orang hidup dengan mayat. Ada ekspresi di sana; ceria mengiring muram dan bahagia sertai sedih, serta bla bla bla.
Langkah kakiku yang segera terhenti ini, akan mengakhiri sejarahku yang terukir di maya-pada. Semoga awal yang aku tancapkan kemarin, lalu kudeklarasikan hari ini menjadi bekal setelah ujung jalan ini aku lalui. Aku yakin semua akhir adalah kepastian. Aku takkan mereka-reka apa yang terjadi di Griya Keabadian itu. Karena cinta, aku hanya punya cinta.
Aku mau bersumpah. Demi Tuhan Yang Jadikan aku berada. Di titian para pecinta, langkah ini menuju pintu kesejatian yang selalu terbuka. Di sanalah calon manusia ditempa, dibentuk dan ditegaskan menjadi “manusia sejati.”
[Amaris]

